Terbaru Contoh gurindam tentang pendidikan, nasihat, jenaka, persahabatan, sindiran, dan cinta

Baca Juga

Terbaru Contoh gurindam tentang pendidikan, nasihat, jenaka, persahabatan, sindiran, dan cinta
Terbaru Contoh gurindam tentang pendidikan, nasihat, jenaka, persahabatan, sindiran, dan cinta


Apa itu Gurindam

Gurindam adalah tipe puisi yang memadankan di antara sajak dan pepatah. Jumlah baris pada gurindam cuman dua dengan rima a-a. Gurindam berisi tuntunan yang terkait dengan budi pekerti dan saran keagamaan. Baris pada gurindam dikatakan sebagai persyaratan dan karena. Persyaratan sebagai baris pertama dan karena sebagai baris ke-2 . Baris pertama mengulas mengenai masalah, permasalahan atau kesepakatan, sedang baris ke-2 memberitahu jawaban atau penuntasan dari ulasan pada baris pertama.

Istilah gurindam berawal dari bahasa Sankrit atau Sansekerta, Kirindam yang ini berarti perumpamaan. Bahasa ini mulai berkembang di saat dampak Hindu masuk di Indonesia yang memakai bahasa Tamil di India. Dampak Hindu masuk di Indonesia dibawa oleh pendeta India pada era kelima M. Dampak peradaban Hindu di masa lampau, sempat pernah berjaya di Indonesia dan sukses membangun banyak kerajaan khususnya pada era ketujuh. Gurindam biasanya berisi nasihat atau seperti kalimat mutiara


Ciri Ciri Gurindam

  1. Terdiri atas empat larik atau empat baris 
  2. Setiap baris terdiri dari 8-12 suku kata 
  3. Bersajak akhir dengan pola a-b-a-b dan a-a-a-a, tidak boleh a-a-b-b atau a-b-b-a 
  4. Ada sampiran dan isi

Ciri-ciri lain pantun ialah tidak ada nama penulis karena penebaran pantun dilaksanakan secara lisan. Semua wujud pantun terdiri dari dua sisi yakni sampiran dan isi. Sampiran ialah dua baris pertama dan isi ialah dua baris paling akhir. Sampiran sering berkaitan dengan alam, mencirikan budaya agraris warga simpatisannya, umumnya tidak ada jalinan dengan sisi ke-2 , cuman untuk mengantar rima atau sajak. Sedang isi sampaikan tujuan dan sebagai arah dari pantun itu.

Ciri Ciri Gurindam Menurut Para Ahli

Sebelum mulai mengenali ciri-ciri gurindam, pahami terlebih dahulu pengertiannya menurut para ahli.
  1. Ismail Hamid (1989): istilah gurindam berasal daripada bahasa Sanskrit. Walau berasal bahasa asing, dalam perkembangan puisi melayu, gurindam berkembang dalam tradisi lisan dan mempunyai bentuknya tersendiri dan berlainan dengan gurindam dalam bahasa Sanskrit.
  2. Raja Ali Haji: menyatakan Gurindam adalah puisi yang terdiri dari dua baris saja dalam satu bait. 
  3. Sutan Takdir Alisjahbana: gurindam adalah sajak dua baris yang terbentuk dari kalimat majemuk.
  4. Za’ba (1962): gurindam merupakan jenis puisi lama yang bentuknya tidak terikat.
  5. Harun Mat Piah (1989): gurindam berdasarkan bentuknya ialah jenis puisi melayu lama yang tidak tentu bentuknya, ada yang terikat dan tidak.

Jenis Gurindam

Ciri-ciri lain pantun ialah tidak ada nama penulis karena penebaran pantun dilaksanakan secara lisan. Semua wujud pantun terdiri dari dua sisi yakni sampiran dan isi. Sampiran ialah dua baris pertama dan isi ialah dua baris paling akhir. Sampiran sering berkaitan dengan alam, mencirikan budaya agraris warga simpatisannya, umumnya tidak ada jalinan dengan sisi ke-2 , cuman untuk mengantar rima atau sajak. Sedang isi sampaikan tujuan dan sebagai arah dari pantun itu.

Contoh Gurindam Pendidikan

Suatu urusan pasti binasa
    Bila tidak dipegang ahlinya

Ilmu itu harus dibagikan
    Bukan dipamerkan

Ilmu itu menundukkan
    Bukan malah menyombongkan

Belajar tak harus ke luar negeri
   Asalkan kau tak pernah berhenti

Contoh Gurindam Persahabatan

Teman tidak perlu seribu
    Cukup satu yang mengerti kamu

Cobalah mau mendengarkan
    Bila ingin punya banyak teman

Jangan dekat orang nakal
    Kalau tak ingin ikut brutal

Contoh Gurindam Nasehat

Buat apa punya wajah ayu
    Kalau tidak tahu malu

Sisihkan uang untuk sedekah
    Agar kelak menjadi berkah

Sekalinya kamu berbohong
    Selamanya dianggap bodong

Contoh Gurindam Sindiran

Buat apa banyak omong
    Kalau semuanya kosong

Hidup suka foya-foya
    Masih berharap masuk surga?


Gurindam 12 Raja Ali Haji

Satu

Ini Gurindam pasal yang pertama:

Barang siapa tiada memegang agama,
Sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.
Barang siapa mengenal yang empat,
Maka ia itulah orang yang ma’rifat
Barang siapa mengenal Allah,
Suruh dan tegahnya tiada ia menyalah.
Barang siapa mengenal diri,
Maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri.
Barang siapa mengenal dunia,
Tahulah ia barang yang teperdaya.
Barang siapa mengenal akhirat,
Tahulah ia dunia mudarat.

Dua

Ini Gurindam pasal yang kedua:

Barang siapa mengenal yang tersebut,
Tahulah ia makna takut.
Barang siapa meninggalkan sembahyang,
Seperti rumah tiada bertiang.
Barang siapa meninggalkan puasa,
Tidaklah mendapat dua termasa.
Barang siapa meninggalkan zakat,
Tiadalah hartanya beroleh berkat.
Barang siapa meninggalkan haji,
Tiadalah ia menyempurnakan janji.

Tiga

Ini Gurindam pasal yang ketiga:

Apabila terpelihara mata,
Sedikitlah cita-cita.
Apabila terpelihara kuping,
Khabar yang jahat tiadaiah damping.
Apabila terpelihara lidah,
Niscaya dapat daripadanya paedah.
Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan,
Daripada segala berat dan ringan.
Apabila perut terlalu penuh,
Keluarlah fi’il yang tiada senonoh.
Anggota tengah hendaklah ingat,
Di situlah banyak orang yang hilang semangat
Hendaklah peliharakan kaki,
Daripada berjaian yang membawa rugi.

Empat

Ini Gurindam pasal yang keempat:

Hati itu kerajaan di daiam tubuh,
Jikalau zalim segala anggotapun rubuh.
Apabila dengki sudah bertanah,
Datanglah daripadanya beberapa anak panah.
Mengumpat dan memuji hendaklah pikir,
Di situlah banyak orang yang tergelincir.
Pekerjaan marah jangan dibela,
Nanti hilang akal di kepala.
Jika sedikitpun berbuat bohong,
Boleh diumpamakan mulutnya itu pekung.
Tanda orang yang amat celaka,
Aib dirinya tiada ia sangka.
Bakhil jangan diberi singgah,
Itulah perampok yang amat gagah.
Barang siapa yang sudah besar,
Janganlah kelakuannya membuat kasar.
Barang siapa perkataan kotor,
Mulutnya itu umpama ketor.
Di mana tahu salah diri,
Jika tidak orang lain yang berperi.

Lima

Ini Gurindam pasal yang kelima:

Jika hendak mengenai orang berbangsa,
Lihat kepada budi dan bahasa,
Jika hendak mengenal orang yang berbahagia,
Sangat memeliharakan yang sia-sia.
Jika hendak mengenal orang mulia,
Lihatlah kepada kelakuan dia.
Jika hendak mengenal orang yang berilmu,
Bertanya dan belajar tiadalah jemu.
Jika hendak mengenal orang yang berakal,
Di dalam dunia mengambil bekal.
Jika hendak mengenal orang yang baik perangai,
Lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai.

Enam

Ini Gurindam pasal yang keenam:

Cahari olehmu akan sahabat,
Yang boleh dijadikan obat.
Cahari olehmu akan guru,
Yang boleh tahukan tiap seteru.
Cahari olehmu akan isteri,
Yang boleh dimenyerahkan diri.
Cahari olehmu akan kawan,
Pilih segala orang yang setiawan.
Cahari olehmu akan ‘abdi,
Yang ada baik sedikit budi,

Tujuh

Ini Gurindam pasal yang ketujuh:

Apabila banyak berkata-kata,
Di situlah jalan masuk dusta.
Apabila banyak berlebih-lebihan suka,
Itulah landa hampirkan duka.
Apabila kita kurang siasat,
Itulah tanda pekerjaan hendak sesat.
Apabila anak tidak dilatih,
Jika besar bapanya letih.
Apabila banyak mencela orang,
Itulah tanda dirinya kurang.
Apabila orang yang banyak tidur,
Sia-sia sahajalah umur.
Apabila mendengar akan khabar,
Menerimanya itu hendaklah sabar.
Apabila menengar akan aduan,
Membicarakannya itu hendaklah cemburuan.
Apabila perkataan yang lemah-lembut,
Lekaslah segala orang mengikut.
Apabila perkataan yang amat kasar,
Lekaslah orang sekalian gusar.
Apabila pekerjaan yang amat benar,
Tidak boleh orang berbuat honar.

Delapan

Ini Gurindam pasal yang kedelapan:

Barang siapa khianat akan dirinya,
Apalagi kepada lainnya.
Kepada dirinya ia aniaya,
Orang itu jangan engkau percaya.
Lidah yang suka membenarkan dirinya,
Daripada yang lain dapat kesalahannya.
Daripada memuji diri hendaklah sabar,
Biar dan pada orang datangnya khabar.
Orang yang suka menampakkan jasa,
Setengah daripada syirik mengaku kuasa.
Kejahatan diri sembunyikan,
Kebaikan diri diamkan.
Keaiban orang jangan dibuka,
Keaiban diri hendaklah sangka.

Sembilan

Ini Gurindam pasal yang kesembilan:

Tahu pekerjaan tak baik, tetapi dikerjakan,
Bukannya manusia yaituiah syaitan.
Kejahatan seorang perempuan tua,
Itulah iblis punya penggawa.
Kepada segaia hamba-hamba raja,
Di situlah syaitan tempatnya manja.
Kebanyakan orang yang muda-muda,
Di situlah syaitan tempat bergoda.
Perkumpulan laki-laki dengan perempuan,
Di situlah syaitan punya jamuan.
Adapun orang tua yang hemat,
Syaitan tak suka membuat sahabat
Jika orang muda kuat berguru,
Dengan syaitan jadi berseteru.

Sepuluh

Ini Gurindam pasal yang kesepuluh:

Dengan bapa jangan durhaka,
Supaya Allah tidak murka.
Dengan ibu hendaklah hormat,
Supaya badan dapat selamat.
Dengan anak janganlah lalai,
Supaya boleh naik ke tengah balai.
Dengan kawan hendaklah adil,

Supaya tangannya jadi kapil.

Sebelas

Ini Gurindam pasal yang kesebelas:

Hendaklah berjasa,
Kepada yang sebangsa.
Hendaklah jadi kepala,
Buang perangai yang cela.
Hendaklah memegang amanat,
Buanglah khianat.
Hendak marah,
Dahulukan hujjah.
Hendak dimalui,
Jangan memalui.
Hendak ramai,
Murahkan perangai.

Duabelas

Ini Gurindam pasal yang kedua belas:

Raja mufakat dengan menteri,
Seperti kebun berpagarkan duri.
Betul hati kepada raja,
Tanda jadi sebarang kerja.
Hukum ‘adil atas rakyat,
Tanda raja beroleh ‘inayat.
Kasihkan orang yang berilmu,
Tanda rahmat atas dirimu.
Hormat akan orang yang pandai,
Tanda mengenal kasa dan cindai.
Ingatkan dirinya mati,
Itulah asal berbuat bakti.
Akhirat itu terlalu nyata,
Kepada hati yang tidak buta.

Tamatlah Gurindam yang duabelas pasal yaitu karangan kita Raja Ali Haji pada tahun Hijrah Nabi kita seribu dua ratus enam puluh tiga likur hari bulan Rajab Selasa jam pukul lima, Negeri Riau, Pulau Penyengat.


Keterangan :

Bakhil ; kikir atau pelit
Balai : rumah tempat menanti raja (di antara kediaman raja-raja)
Bachri : hal mengenai lautan (luas)
Berperi : berkata-kata
Cindai : kain sutra yang berbunga-bunga
Damping : dekat, karib, atau akrab
Fi’il : tingkah laku, perbuatan
Hujjah : tanda, bukti, atau alasan
Inayat : pertolongan atau bantuan
Kafill : majikan atau orang yang menanggung kerja
Kasa : kain putih yang halus
Ketor : tempat ludah (ketika makan sirih), peludahan
Ma’rifat : tingkat penyerahan diri kepada Tuhan yang setahap demi setahap sampai pada tingkat keyakinan           yang kuat
Menyalah : melakukan kesalahan
Mudarat : sesuatu yang tidak menguntungkan atau tidak berguna
Pekong : (pekung) penyakit kulit yang berbau busuk
Penggawa : kepala pasukan, kepala desa
Perangai : sifat batin manusia yang mempengaruhi segenap pikiran dan perbuatan
Senonoh : perkataan, perbuatan, atau penampilan yang tidak patut (tidak sopan)
Tegah : menghentikan
Teperdaya : tertipu
Termasa : tamasya
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
Related Post