Peranan dan Efektifitas Kurikulum

Baca Juga

A. Peranan Kurikulum

Kurikulum penting untuk beberapa pihak yang turut serta dalam aktivitas evaluasi di sekolah. Beberapa faksi yang diartikan diantaranya guru, kepala sekolah, warga, dan penulis buku ajar. Disamping itu, kurikulum digunakan untuk sekolah yang berkaitan dan sekolah di atasnya dengan peranan yang lain. Berikut akan diuraikan sejauh mana keterkaitan mereka dalam melakukan kurikulum.

Peranan dan Efektifitas Kurikulum, Kurikulum K13, Perangkat Guru
Peranan dan Efektifitas Kurikulum

1. Peranan kurikulum untuk guru

Untuk guru baru saat sebelum mengajarkan hal yang pertama harus didapat dan dimengerti adalah kurikulum. Lantas, kapabilitas dasarnya. Kemudian, baru guru cari bermacam sumber bahan yang berkaitan untuk bikin silabus edukasi. Sesuai perannya kurikulum ialah alat untuk capai arah pengajaran. Karenanya, guru seharusnya menyimak arah pengajaran yang bakal diraih oleh instansi pengajaran di mana dia bekerja.

Sebagai contoh peranan pengajaran nasional ialah meningkatkan kekuatan dan membuat karakter dan peradaban bangsa yang bermartabat dalam rencana mencerdaskan kehidupan bangsa, mempunyai tujuan untuk mengembangnya kekuatan peserta didik supaya jadi manusia yang memiliki iman dan bertakwa ke Tuhan Yang Maha Esa, bermoral mulia, sehat, memiliki ilmu, mahir, inovatif, berdikari, dan jadi masyarakat negara yang demokratis dan bertanggungjawab. (UU Sisdiknas 2003, pasal 3).

2. Peranan kurikulum untuk kepala sekolah

Untuk Kepala Sekolah yang baru, hal pertama kali yang didalami ialah arah instansi yang bakal dipegangnya. Selanjutnya cari dan pelajari sungguhsungguh kurikulum yang dipakai. Seterusnya, pekerjaan kepala sekolah adalah lakukan supervisi kurikulum. Yang diartikan supervisi ialah semua usaha yang dilaksanakan supervisor berbentuk pemberian kontribusi, tuntunan, pembimbingan motivasi, saran dan pembimbingan yang mempunyai tujuan untuk tingkatkan kekuatan guru pada proses belajar mengajarkan yang pada gilirannya bisa tingkatkan hasil belajar pelajar.

Sebenarnya sebagai target supervisi dalam penerapan kurikulum untuk kepala sekolah ialah bagaimana guru melakukan kurikulum yang berjalan. Secara eksklusif, target supervisi kurikulum itu salah satunya sebagai ini.

  •  Bagaimana guru membuat unit pelajaran atau disebutkan dengan silabus? (pilih bahan, sistem dan media)
  •  Bagaimana guru membuat program semester berdasar kurikulum?
  •  Bagaimana guru melakukan proses evaluasi?
  •  Bagaimana guru melakukan penilaian hasil belajar?

Supervisi bisa dikerjakan dengan pengamatan, interviu, study dokumentasi, dan lain-lain. Dengan itu, kepala sekolah akan diketemukan bermacam kekurangan guru dalam melakukan kurikulum. Atas dasar itu, diberi diselenggarakan pembimbingan sekedarnya, baik yang berbentuk pembimbingan sektor study atau sektor administrasi kurikulum dengan keinginan proses evaluasi atau produknya akan lebih bagus.

3. Peranan kurikulum untuk warga

Kurikulum ialah alat produsen dalam masalah ini sekolah, sedang warga ialah customernya. Tentunya di antara produsen dan customer harus searah. Keluaran atau output kurikulum sekolah harus bisa link and match dengan keperluan warga. Bagaimana peranan kurikulum sekolah dengan keinginan warga? Berikut bermacam tipe kurikulum sekolah dalam hubungan dengan keinginan warga.

  • Pengajaran umum kurikulumnya memprioritaskan peluasan pengetahuan dan kenaikan ketrampilan dengan penekanan yang direalisasikan pada tingkattingkat akhir periode pengajaran.Pengajaran kejuruan kurikulumnya menyiapkan peserta didik agar bisa bekerja dalam sektor tertentu dalam masyarakat.
  • Pengajaran keagamaan kurikulumnya mempersiapkan kepenguasaan pengetahuan khusus pengajaran agama yang berkaitan dengan keinginan lulusannya menjadi pembimbing agama yang bagus dalam masyarakat.
  • Pengajaran akademis kurikulumnya mempersiapkan kepenguasaan ilmu dan pengetahuan supaya lulusannya menjadi pelopor atau perintis pembangunan atas dasar ide yang kuat.
  • Pengajaran mengagumkan kurikulumnya disiapkan untuk peserta didik yang memiliki abnormalitas untuk dipersiapkan agar sesuaikan didi di kehidupan warga.
  • Pengajaran kedinasan kurikulumnya dipersiapkan oleh satu Departemen Pemerintahan atau Instansi Pemerintahan Nondepartemen bermaksud untuk tingkatkan kekuatan dalam penerapan pekerjaan kedinasan dalam masyarakat nanti.
  • Pengajaran professional kurikulumnya mempersiapkan implementasi ketrampilan tertentu dengan keinginan lulusannya bisa bekerja secara professional dalam masyarakat.

4. Peranan kurikulum untuk beberapa penulis buku ajar

Penulisan buku ajar dilaksanakan berdasar kurikulum yang berjalan. Penulis buku ajar lakukan riset perintahonal untuk bikin dan menguraikan bermacam dasar dan subpokok ulasan. Kemudian, baru membuat program pelajaran untuk mata pelajaran tertentu dengan suport bermacam sumber atau bahan yang berkaitan. Sumber atau bahan yang dipakai bisa berbentuk bahan bikin (buku, makalah, majalah, jurnal, koran, hasil riset dan lain-lain, yang diambil dari beberapa nara sumber, pengalaman penulis sendiri atau dari lingkungan). Pemakaian berbagai sumber itu sebagai bahan pelajaran perlu menimbang kriteria-kriteria sebagai berikut ini:

  • Memiliki sifat pedagogis, maknanya berisi beberapa hal yang normatif.
  • Memiliki sifat psikis, maknanya bahan yang dicatat sesuai mental peserta didik, yaitu perhatian, ketertarikan, keperluan, dan perubahan jiwanya.
  • Bahan sebaiknya diatur secara didaktis, maknanya bahan yang tercatat itu diatur demikian rupa hingga gampang untuk diberikan.
  • Bahan sebaiknya memiliki sifat sosiologis, maknanya bahan janganlah sampai memunculkan polemis dengan kondisi warga pemakainya.
  • Bahan sebaiknya memiliki sifat yuridis, maknanya bahan yang diatur janganlah sampai berlawanan dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Mengenai Mekanisme Pengajaran Nasional.
  • Sesuai dengan karakter kelas-kelas pemakainya. Bahan untuk sekolah dasar kriterianya makin lebih ketat berbahan untuk sekolah menengah.

Seperti disebutkan di atas jika kurikulum digunakan untuk sekolah yang berkaitan dan sekolah di atasnya. Untuk sekolah yang berkaitan kurikulum dipakai sebagai alat dan dasar untuk capai arah, yang direalisasikan sebagai program sekolah. Sedang untuk sekolah di atasnya kurikulum dipakai untuk mengatur atau memiara kesetimbangan proses evaluasi. Dalam kata lain, kurikulum dipakai sebagai (1) alasan membuat kurikulum di sekolahnya, dan (2) jaga kesinambungan.

B. Efektifitas Kurikulum

Sama seperti yang sudah dirinci di atas, pengartian ide kurikulum untuk periset dan pegiat pengajaran bisa berlainan keduanya. Pada umumnya, ide kurikulum bisa diartikan sebagai satu serangkaian pengetahuan, ketrampilan dan aktivitas khusus untuk dikatakan ke pelajar. Pengartian lain, ide kurikulum bisa diartikan sebagai satu serangkaian aktivitas yang diperkirakan sebagai tutorial guru untuk mengajarkan dan pelajar untuk belajar. Dalam aplikasinya, pengartian ini bisa diputuskan selanjutnya dalam tiga tingkat: (1) apa sebagai kurikulum nasional pada tingkat nasional, (2) apa sebagai kurikulum sekolah pada tingkat sekolah, dan (3) apa sebagai kurikulum mata pelajaran pada tingkat mata pelajaran. Jika ide ini terbatasi pada tingkat sekolah, karena itu kurikulum bisa diartikan sebagai satu serangkaian aktivitas dan isi pada tingkat pribadi pelajar, tingkat program, atau tingkat sekolah untuk membantu guru lakukan pekerjaan mengajarkan dan pelajar lakukan pekerjaan belajar.

Pengubahan dan peningkatan kurikulum mempunyai tujuan untuk memaksimumkan efektivitas mengajarkan dan mengajarkan lewat pengubahan isi, aktivitas dan pembaruan proses pengajaran yang diperkirakan. Bila langkah memikir ini diterima, karena itu dialog pengubahan kurikulum bisa disambungkan dengan ide efektivitas kurikulum. Ide ini memiliki kandungan kritikan karena susah dijumpai efektifitas kurikulum untuk guru yang mengajarkan dan untuk pelajar yang belajar.Kritikan seterusnya apa faktor lain sanggup mengkontribusi efektifitas kurikulum.

Kurikulum disebutkan efisien bila bisa berhubungan secara pas dengan kapabilitas guru. Hubungan ini sanggup memberikan fasilitas performa guru, menolong pelajar dalam menghitung pengalaman belajar yang sesuai keperluannya dan menghasilkan outcome pengajaran yang diinginkan. Karakter awalnya kurikulum seperti arah nasional, isi mata pelajaran, sumber dan tehnologi pengajaran bisa jadi dasar sebagai kurikulum sekolah. Penilaian Efektifitas kurikulum bisa mencakup proses dan outcomes seperti performa guru, dan hasil dan pengalaman belajar pelajar. Variable yang bisa diakali, diganti, atau ditingkatkan oleh periset bisa membenahi performa guru dan outcomes sekolah, dan pengalaman belajar pelajar ialah faktor yang kuat hubungan dengan efektifitas kurikulum dan kapabilitas guru.

Sumber:

  • Lise Chamisijatin, dkk. (2008).Peningkatan Kurikulum Sekolah Dasar. Jakarta : Dirjen Dikti-Depdikbud
  • Dakir. 2004. Rencana dan Peningkatan Kurikulum. Jakarta: PT Rineka Cipta.
  • Hamalik, Oemar. 2006. Management Peningkatan Kurikulum. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
  • Idi, Abdullah. 2007. Peningkatan kurikulum: Teori dan Praktek. Yogjakarta: Ar-Ruzz Media.
  • Nasution.1995. Azas-azas Kurikulum. Jakarta: Bumi Aksara
  • Sukmadinata, Nana Syaodih. 2006. Peningkatan Kurikulum: Teori dan Praktek. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
Related Post